Manajemen

Retrospective Meeting – Scrum Series

Posted on

Semenjak bekerja di salah satu software development company, saya menemukan banyak ilmu & wawasan baru, khususnya yang digunakan pada software development. Selain hal-hal yang berbau teknikal, saya juga mendapat wawasan tentang manajemen perangkat lunak, salah satunya Scrum yang bisa dibaca di artikel saya sebelumnya. Ada banyak rangkaian meeting yang dilakukan pada Scrum, tetapi di sini saya akan fokus pada “Retrospective Meeting”.

Sprint Retrospective Meeting (Retro) merupakan meeting yang dilakukan oleh tim di akhir rangkaian meeting selesai dalam 1 sprint. Retro merupakan meeting yang digunakan oleh anggota tim untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja tim tanpa membahas tentang fungsional sistem maupun teknikal. Jadi, bisa diibaratkan Retro merupakan ajang “curhat” bagi tim demi performa yang lebih baik pada sprint selanjutnya.

Langkah awal adalah mengumpulkan anggota tim. Dalam suatu kasus anggota tim bisa saja berada di kota atau negara yang berbeda sehingga tidak mungkin dikumpulkan pada suatu ruangan. Salah satu langkah yang efektif adalah membentuk sebuah conference call (contoh: skype, lync) dan menggunakan tool Pointing Poker. Pada halaman pointing poker, pilih menu ‘Retro’.

Memulai Retro dengan Pointing Poker
Memulai Retro dengan Pointing Poker

Baca entri selengkapnya »

Tips – Mengelola SourceCode

Posted on Updated on

SourceCode? Itu makanan apa? (-_-). Mungkin istilah ini masih terdengar asing bagi orang kebanyakan, tapi sourcecode merupakan makanan sehari-hari bagi teman-teman yang bergelut di bidang teknologi informasi (IT). Tanya saja kepada simbah, bapak, sepupu, anak atau teman yang pernah kuliah atau memiliki hobi IT. SourceCode adalah kode sumber yang digunakan untuk membangun sebuah perangkat lunak, baik yang berupa aplikasi maupun bukan. Setelah instruksi-instruksi pada SourceCode selesai ditulis, dilakukan proses kompilasi sehingga SourceCode dapat berubah menjadi sebuah perangkat lunak yang dapat digunakan, singkatnya begitu.

Nah, analogikan programer sebagai seorang penulis. Penulis menyelesaikan naskah bukunya dalam beberapa tahap, disimpan sebagai draft, dan apabila ada kesalahan penulis akan memperbaikinya kembali sampai naskah bukunya selesai untuk kemudian dikirimkan ke penerbit. Demikian juga programmer. Dalam menuliskan kode-kode, programmer pun tidak luput dari yang namanya kesalahan. Menulis, checking, debugging, salah, tulis lagi, dan seterusnya sampai perangkat lunak telah sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Maka dari itu, programmer dituntut untuk selalu teliti dalam menuliskan instruksi kode untuk meminimalisir kesalahan.

Deretan Buku
Buku Tersusun RapiĀ – ilustrasi via http://wall.alphacoders.com/big.php?i=375332

Baca entri selengkapnya »