Tips – Mengelola SourceCode

Posted on Updated on

SourceCode? Itu makanan apa? (-_-). Mungkin istilah ini masih terdengar asing bagi orang kebanyakan, tapi sourcecode merupakan makanan sehari-hari bagi teman-teman yang bergelut di bidang teknologi informasi (IT). Tanya saja kepada simbah, bapak, sepupu, anak atau teman yang pernah kuliah atau memiliki hobi IT. SourceCode adalah kode sumber yang digunakan untuk membangun sebuah perangkat lunak, baik yang berupa aplikasi maupun bukan. Setelah instruksi-instruksi pada SourceCode selesai ditulis, dilakukan proses kompilasi sehingga SourceCode dapat berubah menjadi sebuah perangkat lunak yang dapat digunakan, singkatnya begitu.

Nah, analogikan programer sebagai seorang penulis. Penulis menyelesaikan naskah bukunya dalam beberapa tahap, disimpan sebagai draft, dan apabila ada kesalahan penulis akan memperbaikinya kembali sampai naskah bukunya selesai untuk kemudian dikirimkan ke penerbit. Demikian juga programmer. Dalam menuliskan kode-kode, programmer pun tidak luput dari yang namanya kesalahan. Menulis, checking, debugging, salah, tulis lagi, dan seterusnya sampai perangkat lunak telah sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Maka dari itu, programmer dituntut untuk selalu teliti dalam menuliskan instruksi kode untuk meminimalisir kesalahan.

Deretan Buku
Buku Tersusun Rapi – ilustrasi via http://wall.alphacoders.com/big.php?i=375332

Oke, kembali ke penulis. Penulis menuliskan naskah buku dengan membaginya menjadi beberapa bab, dicicil sesuai dengan inspirasi yang didapatkannya. Untuk itu penulis akan menyimpan draft bab naskah bukunya secara terorganisir sehingga sang penulis dapat dengan mudah melanjutkannya kembali di waktu yang lain tanpa harus membuang waktu untuk memahami apa yang ia tulis sebelumnya. Programmer juga sama guys. Bedanya, karena bahasa yang dituliskan bukan bahasa manusia normal, programmer harus membuat dokumentasi secara berkala, teratur dan rapi. Tujuannya ya agar sang programmer paham sampai mana dia bekerja dan apa yang harus dikerjakan selanjutnya.

Ada kondisi di mana penulis maupun programmer adalah orang-orang yang memiliki kesibukan dan mobilitas tinggi. Karena kesibukan itulah, tidak hanya naskah buku maupun sourcecode program yang dikerjakan. Perpindahan ruang dan waktu menjadi faktor riskan yang bisa saja terjadi kehilangan data naskah maupun sourcecode program. Ini terjadi karena data naskah maupun sourcecode disimpan dalam sebuah notebook (misalnya) dan secara tidak sengaja hilang atau rusak saat perjalanan. Kalau sudah begini, penulis maupun programmer harus menulis ulang naskah dan sourcecode mereka, mencari inspirasi baru, mencari algoritma baru, dan membuat dokumentasi baru. Bukankah ini sangat membuang waktu dan tenaga?

Kita beruntung, kita hidup di era yang memungkinkan kita dapat menyimpan data secara cloud. Apa itu cloud? Cloud computing adalah sebuah teknologi yang memungkinkan kita dapat menyimpan data tanpa terikat ruang. Jadi walaupun kita menggunakan notebook yang berbeda, mengerjakan pada waktu dan tempat yang berbeda, maupun mengerjakan pekerjaan dengan anggota tim yang berbeda. Its ok, no problem. Bagi penulis, ada banyak pilihan tool yang dapat digunakan untuk mengelola naskah. WordPress (seperti yang saya gunakan), Google Docs, Microsoft Office 360 merupakan sebagian layanan yang berguna untuk menuliskan naskah dan kemudian disimpan pada cloud. Kalaupun dikerjakan dengan Microsoft Office biasa, ada banyak layanan yang dapat digunakan untuk menyimpannya secara cloud seperti Google Drive, Dropbox, Copy, OneDrive.

Pendekatan pada programmer menggunakan solusi yang berbeda dibandingkan kepada penulis. Kenapa? Karena ya berbeda, naskah buku dan sourcecode merupakan hal yang jauh berbeda. Pada sourcecode, sangat penting untuk mengetahui di line mana programmer melakukan perubahan kode dan apa maksudnya. Perubahan akan selalu terjadi selama perangkat lunak belum sesuai dengan tujuannya. Untuk itu, programmer membutuhkan tool khusus untuk melakukan maintain dan control pada sourcecodenya. Kapan dia melakukan perubahan, apa yang diubah, line berapa, apa maksud dari kode yang diubah, dan sebagainya. Pokoknya, programmer butuh tool yang memiliki dokumentasi terorganisir.

BitBucket
BitBucket, salah satu code repositories yang menyediakan fasilitas private – bisa diakses di https://bitbucket.org

Maka dari itu, diciptakan layanan-layanan semacam SVN, Google Code, Github, BitBucket, dan sebagainya. Layanan-layanan ini memiliki fitur yang bervariasi. Kebanyakan dari layanan ini menyediakan fasilitas penyimpanan dan manajemen sourcecode yang bersifat public. Artinya, sourcecode dapat dilihat dan diunduh oleh seluruh orang di dunia. Bagi kalangan tertentu, tentu ini bukanlah sebuah kebahagiaan, karena mungkin saja sourcecodenya adalah sebuah aset penting dan tidak boleh disebarluaskan. Kalau sudah begini, untuk tetap bisa menikmati layanan cloud, programmer harus merogoh kocek agar dapat menikmati layanan private. Tapi ada kabar bahagia bagi teman-teman mahasiswa yang memiliki email institusi untuk menikmati layanan private cloud. Cukup akses layanan BitBucket dengan menggunakan email institusi, dan lakukan konfirmasi dari email tersebut. Setelah itu, teman-teman akan mendapatkan fasilitas private cloud yang dapat digunakan selama email institusi masih aktif. Memang bagi yang belum terbiasa ini akan sedikit membingungkan. Tapi percayalah, ini akan membantu saat menangani sourcecode program dengan scope yang besar dan melibatkan banyak anggota tim. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s